rtp partai togel

    Release time:2024-10-07 21:48:08    source:jadwal lengkap persib putaran 2   

rtp partai togel,ok 168,rtp partai togelJakarta, CNN Indonesia--

Amerika Serikat, Israel, dan Uni Emirat Arab menggelar pertemuan rahasia untuk membahas strategi potensial masa depan Gaza pasca agresi.

Dilansir Fox News, pertemuan yang digelar pada Kamis (18/7) lalu ini pertama kali dilaporkan oleh Axios. Namun informasi detail pertemuan ini belum jelas, termasuk apakah juga dibahas soal opsi untuk mengakhiri perang di Gaza.

Lihat Juga :
Donald Trump Bakal Bertemu Netanyahu di Resor Mar-a-Lago Florida

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Axios melaporkan sehari sebelum pejabat ketiga negara itu bertemu, seorang pejabat senior UEA mengindikasikan bahwa Abu Dhabi bersedia menyumbangkan pasukan untuk pasukan penjaga perdamaian pascaperang di Gaza.

Hal ini menjadikan UEA sebagai negara Arab pertama yang secara terbuka mendukung rencana pasca gencatan senjata yang didorong diam-diam oleh pemerintah Presiden Joe Biden.

Pilihan Redaksi
  • Khan Younis Gaza Jadi Medan Tempur, Israel Usir Warga Segera Mengungsi
  • Apa itu Fatah-Hamas, 2 Faksi Palestina yang Sepakat Rujuk di China?
  • Israel Marah Hamas-Fatah Rujuk, Sebut Palestina Rangkul Teroris

Selain itu sebelumnya utusan khusus untuk Abdullah bin Zayed, Lana Nusseibeh, juga menulis opini soal "misi internasional sementara" di Gaza.

Dilansir New Arab, dia menyerukan misi ini untuk mengatasi krisis kemanusiaan, menegakkan hukum dan ketertiban, meletakkan dasar bagi pemerintahan yang fungsional, dan membuka jalan untuk menyatukan kembali Gaza dan Tepi Barat yang diduduki, di bawah satu otoritas Palestina yang sah.

Pasukan internasional hanya bisa memasuki Gaza, atas undangan resmi dari Otoritas Palestina (Palestinian Authority/PA).

Rencana tersebut tak menyebut peran apa yang akan dipegang Israel bersama pasukan internasional yang diusulkan. Namun dijelaskan bahwa AS akan punya peran signifikan dalam rencana itu.

Meski demikian proposal tersebut sejauh ini belum mewakili otoritas Palestina. Sehingga masih diragukan apakah wacana "misi internasional sementara" ini mengantongi restu dari rakyat Palestina, yang telah jadi sasaran kebrutalan Israel selama berbulan-bulan terakhir.



(dan/dna)